DUNIA KECIL ( Cerpen )

Kamu terpilih, Mads!”
Anak lelaki itu terbangun dari mimpinya. Samar-samar ia masih mengingat kemana pikirannya bernaung. Ada banyak sekali butiran pasir disekeliling dirinya, dan bagaikan menari di antaranya, ia merasa takjub dan terpesona, lalu ada seseorang, sesosok raut. Entah siapa dia, namun dia terasa familiar. Tidak asing. Entahlah, itu semua hanyalah mimpi. Tidak penting, bukan? Apa yang penting adalah kenyataan. Hidup dalam realitas. Itulah yang penting. Dengan enggan, Madison memaksa dirinya untuk bangun dari tempat tidur. Dia berdiri di depan lemari kaca tepat di samping tempat tidurnya. Kedua tangannya menggenggam erat knob pintu lemari yang terbuat dari kayu jati mengkilat dan di pernish. Mads mengangkat wajahnya, matanya menyelidiki bayangan dirinya yang terpantul ke dua bola matanya. Oh, sudah pagi rupanya, pikir Mads. Kepalanya agak sakit. Mimpi yang sama lagi, sudah tiga malam dia memimpikan dirinya berada di tempat aneh seperti kolam pasir yang halus. Mimpi ini selalu berakhir dengan munculnya sebuah sosok hitam seperti manusia, seperti seorang anak gadis. Entah apalah artinya. Mads bukanlah anak yang malas, namun dia sudah merasa muak dengan kehidupannya sehari-hari.

Yang dia lakukan tiap hari adalah pergi sekolah, bertemu dengan orang-orang yang sama hari demi hari. Memang dia masih berusia muda, 14 tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mengerti apa itu hidup. Namun Mads sudah cukup mengerti. Anak yang lemah selalu diinjak-injak. Mads melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang runcing. Ia bagaikan seorang anak yang kurang gizi. Bukannya Mads tidak dapat makan banyak, tidak. Dia dapat makan banyak, namun entah kenapa dia tidak pernah bisa gemuk. Mungkin stress dalam dirinya, atau dia cacingan, atau ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Di sekolah, Mads bukanlah anak lelaki SMP 2 yang dipuja-puja, malah dia dapat dikatakan termasuk anak yang kutu buku, yang selalu melakukan hal-hal sesuai dengan peraturan. Hidup tanpa menyalahi aturan dan selalu sopan dengan orang tua. Dia mungkin terlalu naif dan lemah. Itulah sebabnya dia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolahnya. Kelasnya dipenuhi oleh anak brandalan yang suka mengganggu anak-anak seperti Mads. Mads adalah langganan bagi mereka. Bruno, Zack, Talli, dan Wendall. Mads tidak pernah bosan dijadikan “punching bag” mereka, atau sebagai media mereka melepaskan kekesalan dan masalah mereka. Setiap hari ujian, Mads harus menyelipkan jawaban bagi mereka, dan bila ketahuan guru, Mads lah yang harus menerima batunya, karena bila Mads menunjukkan jarinya pada Bruno dan kawan-kawan, maka Mads siap-siap saja menjadi bahan untuk disepak terjang sepanjang hari. Otomatis, sekolah menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Mads. Dia benci ke sekolah, dia benci dengan hidupnya yang tak berdaya untuk melawan. Dia benci karena dia lemah, karena tubuhnya kecil dan tidak mampu untuk membela dirinya sendiri. Tidak ada teman atau siswa lain di sekolah yang mau membantu Mads. Mereka juga takut apabila mereka membantu, maka mereka akan jadi sasaran juga. Mads tidak menyalahkan mereka.

Pagi ini Mads sudah mempersiapkan diri untuk menerima lebih banyak pukulan. Tugas Fisika nya sudah dia selesaikan, namun dia tidak akan mau menyerahkan hasil jerih payahnya untuk geng Bruno. Tidak mudah bagi Mads untuk mempelajari asal usul Alam Semesta, menjelaskan apa itu elektron, atau mengerti mengapa galaksi kita berputar dengan cepat tanpa kita sadari. Tidak. Mads tidak akan menyerahkan PR nya kepada orang lain selain guru. Biarlah bila dia kena hajar, setidaknya kali ini dia tidak menyerah. Benar saja, ketika Mads menolak permintaan Wendall untuk merampas buku fisikanya, sebuah tonjokan mendarat di perut Mads. Rasanya sakit dan berdengung. Nyerinya sampai ke tenggorokan. Menelan ludah pun sakit. Mads menunduk di lantai, mencoba untuk berdiri tegak, namun dia kesusahan. Wendall lalu pergi memanggil Bruno dan kawannya, jelaslah untuk menyiksa Mads lebih jauh lagi. Mads segera bergerak. Dengan susah dia harus mencari tempat sembunyi, agar bisa lolos dari mereka. Namun sudah terlambat. Bruno sudah melihat sosok dirinya merintih dalam kesakitan. Bruno berlari mendekatinya, namun sesuatu yang aneh terjadi. Mads yang semula panik melihat Bruno berlari, sekarang malah heran melihat Bruno yang seakan sulit melangkah. Wendall dan Talli juga sama, mereka berlari, namun gerak mereka seperti diperlambat 3 kali. Seakan-akan mereka berada dalam sebuah film slow motion. Mads tidak pikir banyak. Dia segera berlari terbirit-birit, sampai ke gudang tempat menyimpan sapu sekolah, dia bersembunyi di dalam. Betapa terkejutnya dia, ternyata ada seorang manusia lain di dalam gudang sapu sempit itu. Seorang anak gadis. Nampaknya lebih tua dari Mads. Mungkin 15 tahun, atau 16 tahun. Namun dia tetaplah anak remaja. Dia memakai kemeja putih berlengan panjang, yang terselip rapi dalam celana panjangnya yang juga berwarna putih. Aneh sekali melihatnya memakai pakaian serba putih dan serba tertutup di dalam tempat yang begitu kotor dan begitu panas. Rambutnya yang panjang tergerai bebas seakan ada angin yang meniupnya, walau gudang itu sebenarnya pengap. Tak ada setetes keringat pun di kening gadis itu. Wajahnya merekah bahagia dengan senyuman ramah saat dia melihat Mads yang masih kaget dengan orang lain selain dia di gudang itu. Mads tidak pernah melihat gadis ini, namun entah kenapa dia merasa tidak asing dengannya.

“Halo Mads.” sapa gadis itu dengan lembut. “Ka- Kamu siapa?” balas Mads gugup. Dia selalu tidak nyaman berbicara dengan gadis cantik. “Namaku Jeannie.” jawabnya ceria. “Aku sudah memperhatikan dirimu sejak lama, Mads.” “Hah? Maksud mu? Err.. kamu siapa sih? Kita saling kenal ya? Sori… tapi aku sudah lupa…” sahut Mads dengan terbata-bata, pikirannya meracu seiring degupan jantungnya yang semakin tak karuan. Pikirannya masih mengkhawatirkan Bruno dan Wendall. “Relax, Mads… Mereka tidak akan bisa menemukanmu disini.” kata Jeannie dengan tatapan mengerti. “Oh, kok kamu bisa tahu?” Namun Jeannie hanya mengabaikan pertanyaan Mads. Dia tiba-tiba duduk disamping Mads, tanpa mempedulikan celananya sudah kotor terkena debu di lantai. Jeannie tampaknya sangat tertarik dengan Mads, dan Mads tidak tahu kenapa. “Mads, kamu merasa tersiksa ya? Kamu tidak merasa nyaman dengan hidup ini. Teman-temanmu tidak ada yang bisa membantumu. Orang tuamu juga tidak mengerti keadaanmu. Guru pun tidak peduli. Tapi kamu tetap tidak menyerah. Kamu tidak memberikan tugas fisika mu pada mereka, bukan? Itu bagus, Mads.” Mads menatap Jeannie dengan mulut terbuka dan wajah bego melongo. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Jeannie dan mengapa dia berkata demikian. “Aku bisa membantumu, Mads. Kamu tidak perlu lagi takut pada Bruno dan gangnya.” “Kamu bisa membantuku? Kamu bisa membuat mereka tidak mengganggu aku lagi?” tanya Mads, di tengah kebingungannya, entah mengapa, dia bisa merasakan sebuah kenyamanan di sekitar Jeannie. “Tentu saja bisa. Aku baru saja membantumu lolos dari cengkraman mereka bukan?” “Itu kamu?” Jeannie mengangguk ceria. “Kau membuat mereka seakan mereka bergerak secara slow motion… bagaimana..” namun Jeannie memotong kalimat Mads. “Slow motion? Tidak sama sekali. Mereka bergerak seperti biasa. Kamulah yang bergerak dengan lebih cepat, sehingga bagimu, mereka tampak bergerak dengan lambat. Seperti lalat yang bisa melihat gerakan cepat seolah-olah gerakan itu adalah slow motion…” Mads semakin tak mengerti… “Aku? Bagaimana aku bisa melakukan itu?” “Yah, katakan saja aku punya beberapa ‘kemampuan’ yang special.” Mads diam tak percaya. Pandangannya masih terpaku pada Jeannie. “Nah, Mads. Aku perlu bantuanmu.” “Bantuanku?” kali ini perhatian Mads teralih. “Ya. Bila kamu membantuku, aku berjanji, kamu tidak akan pernah merasa terbebani lagi oleh semua rasa sakit dalam hidupmu.” Mads masih terpana. “Kamu bisa membebaskanku dari ini?” tanya Mads akhirnya. “Ya.” balas Jeannie tegas. “Okay kalau begitu. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” “Pertama-tama, kita harus pergi ke tempat lain dulu. Gudang ini terlalu sempit. Pegang tanganku.” kata Jeannie, dia berdiri menghadap Mads yang masih tercengang. Lalu Mads menjulurkan tangannya dan menyentuh tangan Jeannie, saat itulah Mads terasa terangkat ke atas. Jeannie dan Mads terbang, tubuh mereka bergerak ke atas dengan mantap. Atap gudang seakan-akan bukan halangan, mereka terus naik seakan menembus beton dan genteng. Tapi Mads tidak merasa tubuhnya menyentuh apa-apa.

Sedetik kemudian mereka sudah berdiri diatas gedung pencakar langit. Angin kencang menerpa wajah Mads. Dia tidak percaya dia sedang berada di atap gedung tinggi. Melihat ke sekeliling, Mads memperhatikan banyak mobil berlalu lalang jauh dibawah. Atap itu kosong dan tak dihuni manusia selain mereka berdua. Beberapa meter dari mereka, ada satu lagi atap gedung yang tingginya sama dengan atap dimana mereka berada. Awan terasa lebih dekat, dan matahari seakan masih bersembunyi di balik awan, menyembunyikan teriknya. “WHOA…!!! Apa yang terjadi? Dimana kita?” seru Mads dengan panik. Jeannie menatapnya dengan tenang, tangannya masih menggenggam Mads. “Kita sedang berdiri di atas gedung World Trade Center, New York, Amerika Serikat. Dua tahun lagi, tepatnya 9 September 2001, gedung ini akan rubuh karena ulah manusia. Begitu juga gedung yang berada di sebelah kita.” “APA?! BAGAIMANA KITA BISA DISINI? SIAPA SEBENARNYA KAMU?” “Aku baru saja memindahkan kamu.” jawab Jeannie masih dengan senyuman hangat dan nada tenang. “Kamu men-teleport saya?” “Yaa, itulah istilah yang kalian gunakan.” “Yang kalian gunakan? KAMU SIAPA?” kali ini Mads sudah benar-benar panik. “Aku adalah apa yang kalian sebut dengan tuhan.” Mads tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. *** “Tu… Tuhan?” ulang Mads dengan bego. Jeannie hanya menggangguk ramah. “Tapi… Bagaimana mungkin… kamu cuma anak perempuan…” “… yang baru saja menteleport kamu ke atas gedung ini. Sebenarnya aku bukan anak perempuan lho, ini hanyalah wujud sementara yang aku pilih supaya bisa berinteraksi dengan kamu, sebagaimana semua benda di bumi ini berinteraksi dengan objek dimensi tiga.” Tapi Mads tidak mendengar perkataan Jeannie. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menyahut, “Jangan bercanda ya! Aku tidak tahu apa yang kamu mainkan, tapi Tuhan itu tidak ada. Tidak ada yang namanya Tuhan di dunia ini. Itu hanyalah sebuah khayalan manusia. Aku pasti sedang bermimpi… aku..” Jeannie melirik Mads dengan penasaran. “Oh ya, aku baru ingat, kamu ateis ya. Kamu tidak percaya dengan ajaran agama di sekolahmu. Aku mengerti. Kamu benar. Tuhan yang kalian manusia bayangkan, tidaklah nyata. Tidak akurat, setidaknya.” “Maksudmu?” tanya Mads perlahan. Walau masih terpana dengan angin yang menyapu wajahnya dari atas lantai 110 gedung WTC, Mads berusaha tetap fokus. “Yesus, El, Allah, Achaman, Indra, Zeus, semua gambaran kalian tentang tuhan tidaklah akurat. Kami tidak berwujud kakek tua berjenggot. Kami tidak tinggal di Surga dan kami tidak menghukum manusia di Neraka. Tapi kami omnipotent and omnipresent.” “Apakah kamu menciptakan kita semua?” Tetap skeptis, Mads menuntut penjelasan lebih jauh. “Apakah kamu menciptakan alam semesta ini? Galaksi? Planet? Manusia? Semuanya?” Kali ini Jeannie tampak tersipu malu. “Er.. sebenarnya, aku hanya memberikan sedikit ‘dorongan’, lalu semuanya terjadi. Manusia adalah hasil reaksi kompleks dari bahan kimia di alam semesta ini, namun ya, bisa dikatakan akulah yang memulai semuanya. Aku cukup bangga dengan karyaku, tahukah kamu? Tidak seperti saudaraku. Dia mengira manusia adalah sebuah kesalahan. Sebuah cacat dalam kreasi yang maha agung.” “Kamu punya saudara?” tanya Mads dengan takjub. “Iya, tentu saja.” seru Jeannie, agak terkejut dengan pertanyaan Mads. “Eh?? Siapa dia?” pinta Mads lebih jauh. “Kamu ingin tahu, Madison?” Mads mengangguk. Dia selalu penasaran dengan rahasia alam semesta, dan kali ini dia mendapat kesempatan untuk menguaknya. “Kalau begitu, marilah ku tunjukkan. Kencangkan sabuk pengamanmu!” Seru Jeannie bersemangat.

Selama sepersekian detik, Mads merasa dia terbangun dari sebuah mimpi, karena pemandangan di sekitarnya tiba-tiba terasa “terkoyak”. Gedung-gedung di sekitarnya terlipat seakan terbuat dari kertas warna. Langit biru tampak semakin biru, lalu warna birunya tersebar ke segala arah, memandikan pupil Mads seolah-olah ratusan kembang api dinyalakan di depan matanya, namun tanpa ledakan apa-apa. Suara Jeannie terdengar jelas di dalam kepalanya, sejernih pikiran Mads sendiri. “Kita sedang mengarungi ruang waktu, Mads. Aku membawamu ke Paris…” Baru saja suara Jeannie berdengung di pikiran Mads, sekarang mereka sudah berdiri di sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah piramid yang terbuat dari kaca dengan bingkai putih menjulang tinggi dari lantai. Langit telah berubah jadi gelap. Hari sudah malam dalam sekejap. Dan tempat ini di penuhi oleh banyak turis dan manusia dengan benda aneh yang terlihat canggih di tangan mereka. “Dimana kita?” seru Mads yang baru saja menapakkan kakinya mencari keseimbangan di lantai yang juga terbuat dari kaca. “Musee du Louvre. Museum terbesar di dunia. Kita ada di Paris, Mads.” Jeannie berdiri di samping Mads. Bajunya yang berwarna putih bersinar. Tak ada manusia lain yang peduli dengan hal itu, tampaknya. “PARIS?” seru Mads kaget. Dan sekali lagi, semua manusia disekiling mereka seakan tidak tahu seorang anak remaja Indonesia berpakaian seragam SMP dan sebuah Tuhan sedang ada disana. “Yup, tepatnya di Paris hari Sabtu pukul 20.04 tanggal 19 November 2014.” Mads hanya melongo mendengar perkataan Jeannie. Dia tidak tahu harus berkata apa. “Apa yang mereka pegang itu?” tanya Mads akhirnya, sebuah pertanyaan bodoh. Dia menunjuk sekumpulan anak-anak yang sibuk menggerakkan jemari tangannya di sebuah layar segiempat dan tampak sangat terbius olehnya. “Oh, itu namanya i-phone 5. Yang paling baru. Itu seperti sebuah telepon genggam. Kamu pernah dengar kan?” Mads hanya mengangguk terpesona sambil membayangkan nokia 3210 yang dibanggakan temannya Addie beberapa hari lalu, mengaku inilah gadget paling canggih di tahun 1999. “Kamu siap? Mads?” tanya Jeannie membangunkan Mads dari lamunannya. Mads hampir lupa menanyakan mengapa mereka ada disana. Namun sebelum Mads sempat berkata apa-apa, tiba-tiba mereka bergerak turun, atau itulah yang Mads kira. Dia memperhatikan semua orang menjadi semakin tinggi dan semakin jauh. Lantai kaca tempat dia berdiri terasa semakin dekat. Lalu dia sadar dia dan Jeannie sedang mengecil dalam ukuran. Sejenak, dia menjadi sebesar seekor kucing, lalu dia menjadi sebesar seekor semut, dan Mads melihat sepatu manusia di dekatnya membesar sampai seperti sebuah kapal Titanic. Langit seperti di zoom out sampai jauh sekali. Lalu Mads memasuki sebuah dunia yang dipenuhi oleh kristal-kristal.

Mulutnya kembali menganga. “Kita sedang mengecil, Mads. Sekarang kamu melihat kristal karena seperti inilah kaca terlihat di dalam sebuah mikroskop.” Lalu mereka bergerak lagi, kali ini tidak terasa seperti menyusut, lebih terasa seperti dunia disekitar yang bergerak-gerak, sedangkan Mads dan Jeannie hanya berdiri diam menikmati pemandangan aneh. Manusia dan langit sudah tidak terlihat lagi. Mads menoleh ke atas dan melihat semuanya hanyalah kristal-kristal yang semakin lama semakin besar. Kemudian pemandangan berubah seluruhnya. Mereka seakan masuk kedalam sebuah kolam yang berisi butiran butiran kecil putih. Banyak sekali butiran-butiran itu menari-nari di sekeliling Jeannie dan Mads, dari kepala sampai kaki. Dari langit sampai tanah, bila masih ada langit ataupun tanah. “Ini atom-atom kaca, Mads.” “Kita sudah seukuran atom?” “Haha… tentu saja belum. Kita masih lebih besar dari atom bukan?” Lalu pemandangan berubah lagi. Butiran itu semakin lama semakin besar, dan mendadak Mads merasa terjatuh kedalam salah satu butiran, seakan ia masuk ke dalam sebuah ruangan bundar. “Kita berada di dalam satu atom bukan?” seru Mads. Dia ingat pelajaran fisika di sekolah yang mengatakan di dalam satu atom ada proton, elektron, dan neutron. Mads melihat sekeliling dan melihat banyak butiran kecil yang saling berdekatan, dia memikir kalau itu pasti proton dan neutron, yang selalu bersama. Tapi tidak tampak elektron dimana-mana. Elektron seharusnya bergerak mengitari inti atom bukan? “Iya.” jawab Jeannie santai. “Mana elektron?” Jeannie menunjuk sesuatu yang muncul tiba-tiba di kejauhan lalu menghilang lagi. Bentuknya bundar dan bercahaya, namun hanya muncul sekilas. Ukurannya sangat kecil bila dibandingkan dengan proton atau neutron. “Mengapa dia menghilang?” tanya Mads. “Elektron bukan seperti planet yang mengorbit proton dan neutron Mads. Dia adalah teman yang unik. Dia muncul di tempat-tempat tak terduga, dan bisa hilang tanpa kita sadari. Benar saja, sesaat setelah Jeannie mengatakan itu, tampak 3 elektron tiba-tiba muncul dan bergerak cepat di depan mata Mads lalu menghilang lagi. “Wow! Aku baru saja melihat tiga elektron!” seru Mads dengan semangat. “Tidak. Itu elektron yang sama. Di dunia ini, dimana pun kamu berada, di atom apapun, cuma ada 1 elektron di alam semesta ini. Elektron punya kemampuan untuk berada di beberapa tempat yang sama dalam waktu yang sama. Dia juga mampu kembali ke masa lalu atau masa depan. Elektron yang datang dari masa depan tidak boleh menyentuh elektron dari masa sekarang, atau akibatnya akan terjadi pelepasan energi. Itulah yang kalian sebut dengan antimatter.” Mads semakin tertarik. Dia sering mendengar tentang bagaimana Antimatter adalah sebuah partikel yang kutubnya terbalik dari materi biasa, namun dia tidak pernah menduga mereka adalah materi yang berasal dari masa depan.

Tapi Mads belum sempat menyelidiki lebih jauh, mereka bergerak lagi. Pemandangan di sekitar mereka berubah lagi. Elektron yang kecil sudah tak kelihatan dimanapun, dan neutron yang tadi jauh sekarang terasa semakin dekat dan semakin besar. Lalu Mads dan Jeannie terjatuh lagi ke dalam neutron. Mereka masuk ke dalam butiran besar itu. Mads tidak pernah tahu apa yang ada didalam Neutron. Di sekolah belum diajarkan sampai sejauh itu. Dia menduga akan melihat sesuatu yang spektakular, maka Mads kecewa ketika melihat butiran lain lagi di dalam neutron. “Ini quarks.” sahut Jeannie pada Mads yang bingung. “Mereka ukurannya jauh lebih kecil dari elektron.” Mads hendak bertanya apa itu quarks, namun mereka telah masuk lagi ke dalam quark itu. Kali ini pemandangannya berubah drastis. Semuanya menjadi gelap hitam. Dan di kejauhan ada seperti cahaya yang bergerak-gerak lambat. “Kita sedang berada di dalam quark, kan?” tanya Mads. Jeannie mengangguk, lalu berkata : “Kita sudah berada dalam dunia supermikroskopis. Jika kamu membayangkan sebuah atom sebagai sebuah galaksi, sekarang ukuran kita seperti sebuah pohon di dalam galaksi tersebut. Begitu kecilnya lah kita sekarang.” Tercengang, Mads memikirkan belum setengah jam lalu dia masih berada di sekolahnya di Indonesia, hidup normal. Tapi sekarang dia berpetualang di dunia aneh dengan seseorang yang mengaku Tuhan. Akhirnya, perjalanan mereka sampai pada cahaya kecil tadi. Ternyata itu bukan cahaya, namun sebuah tali (string) yang tampak bergetar-getar, hampir mirip dengan sebuah senar gitar yang dipetik oleh manusia kasat mata. Warnanya biru putih terang. “Ini String. Sebuah bentuk energi yang menopang semua materi di alam semesta. Semua materi di dunia terbuat dari helai energi ini. Bahkan, pada tahun 2004, manusia sudah bisa menemukan rahasia string ini. Mereka menyebutnya String Theory. Mereka tidak bisa membuktikan teori itu tentunya, karena mereka tidak bisa melihat sedalam ini.” Jelas Jeannie seakan-akan dia adalah guru fisika biasa. “Jadi inikah benda yang paling kecil? Inikah ujung dari dunia super kecil?” tanya Mads. “Ujung? Sejak kapan alam ini memiliki ujung? Kecil hanyalah relatif. Kita bisa bergerak lebih kecil dari ini lagi, Madison. Ayo.”

Dan mereka kembali bergerak. String yang bergerak-gerak ukurannya bertambah besar, dan bertambah lebar. Sekarang string itu tampak menjadi sebuah membran, seakan-akan string itu tertarik, stretch. Lalu Mads masuk ke dalam membran itu dan sekelilingnya menjadi pendar-pendar cahaya… menyilaukan sekali, dia berusaha menyipitkan matanya, namun tetap saja silau. Lalu semuanya menjadi gelap lagi. “Apa? Bagaimana bisa?” Mads tercengang melihat pemandangan di sekitarnya. Di kejauhan, tampak beberapa galaksi sedang bersandar santai di ruang vakum ruang angkasa. Jeannie masih berdiri di sampingnya, namun ketika Mads melihat ke bawah, dia sadar dia sedang menginjak ketiadaan. Seolah-olah dia sedang melayang di ruang vakum. “Bagaimana kita bisa menjadi di ruang angkasa?” tanya Mads kagum. “Memang inilah yang ada di dalam string itu, Mads. Jika kamu terus mengecil, maka kamu akan menemukan Bima Sakti, menemukan Tata Surya mu, menemukan Bumi mu, menemukan dirimu, atom, quark, string, dan begitulah seterusnya. Alam semesta ini tidak punya ujung. Sekarang kamu tahu rahasianya, Mads.” “WOW…” masih mencoba mencerna semuanya, Mads menoleh kepada Jeannie. “Jadi kamu benar-benar Tuhan, Jeannie?” Jeannie tersenyum. “Namaku bukan Jeannie. Itu hanya sebuah kata. Tidak ada artinya. Aku bukanlah sebuah mahkluk, Mads. Aku bukan Tuhan. Tidak ada tuhan di alam ini. Yang ada hanyalah Energi. Aku adalah Energi yang menciptakan alam ini, beserta dengan manusia dan seluruh isinya. Aku dan Saudaraku, lebih tepatnya. Saudaraku juga suatu bentuk energi, Mads. Tapi kamu bisa mengatakan dia energi yang jenis nya berbeda denganku. Kalian manusia biasa menyebut energiku energi positif, baik, suci, tuhan. Dan Saudaraku, kalian biasa menyebutnya energi negatif, buruk, terkutuk, iblis. Tapi apalah artinya sebuah nama, Madison? Bersama-sama, kami berdua menjaga kestabilan semuanya.” Mads masih terkagum-kagum dengan perkataan Jeannie. “Jadi inikah semuanya? Rahasia yang ingin sekali diungkap manusia?” “Oh, jangan salah paham, Mads. Ini hanyalah semesta yang bisa dimengerti oleh nalar kalian, mahkluk yang hanya bernaung di dimensi tiga. Aku berada di tempat lain. Ada banyak dimensi di semesta ini. Dimensi yang tidak akan pernah bisa di mengerti atau dikunjungi manusia karena keterbatasan fisik ataupun pikiran. Tapi yah, sejauh ini saja lah yang bisa kalian capai.”

“Mengapa kamu menunjukkan semua ini padaku, Jeannie? Mengapa aku? Aku hanyalah seorang lelaki biasa. Aku hanyalah seorang anak normal.” “Tentu saja kamu bukan hanya anak normal biasa, Madison. Kamu menahan semua siksaan pada hidupmu. Kamu tidak menyerah walaupun dipukul Bruno, dihajar Wendall. Itu mungkin hanya hal kecil dan tak berarti bagimu, tapi bagi ku, perbuatan-perbuatan kecil adalah kunci dari segalanya.” “Kamu tadi bilang mau meminta bantuanku. Apa maksudmu dengan itu?” “Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, Mads.” “Apa?” “Aku ingin kamu hidup dalam kehidupanmu apa adanya. Jangan menyerah dengan cobaan yang datang. Aku menunjukkan ini semua padamu karena kamu adalah anak yang spesial, Mads. Kamu akan tumbuh besar dan membantu banyak orang. Tapi kamu akan melakukan itu sesuai dengan keinginanmu sendiri, sesuai dengan hati nuranimu. Dan ketika saatnya tiba nanti, kamu akan memulai tugas aslimu.” “Apa tugas itu?”

Lalu pemandangan galaksi di sekitar Mads terkoyak lagi, seperti ketika berada di atas gedung WTC tadi. Mads terasa terangkat, dan sesaat kemudian, dia sudah kembali di gudang sapu di sekolahnya. Jeannie sudah hilang. Namun suaranya masih terdengar di benak Mads. “Kamu adalah aku. Aku adalah dirimu. Suatu saat nanti, kamu akan menjadi aku.” Mads membuka pintu gudang dan menemukan Bruno dan ketiga temannya sudah menunggunya. “Berikan PR fisikamu, Tikus jelek.” sahut Bruno dengan mengancam. “Buat sendiri PR-mu Bruno. Aku tidak akan memberikan ini padamu.” Lalu pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Mads. Tapi Mads membalas dengan semampunya. Ketika mulutnya mengeluarkan darah merah, Mads sadar dia telah membuat Bruno, Wendall, Talli, dan Zack berdarah juga. Dengan nafas tersengal-sengal, Mads mengepal tangannya, “Hosh.. Hosh… Kau pikir bisa seenaknya mengganggu? Hosh.. Hosh.. Ayo!” Bruno melihat bibirnya sendiri yang berdarah, melihat Mads yang tidak menyerah, lalu akhirnya dia pergi meninggalkan Mads sendirian. Ketiga temannya mengikutinya.

Mads berjalan dengan perlahan ke dalam kelas. Guru membukakan pintunya. Dia melihat Mads yang mulutnya berdarah dan berkata, “Kemana saja kamu, Madison? Kelas sudah dimulai. Kita baru saja membahas apa yang ada di dalam sebuah atom. Kalau kamu tahu jawabannya, kamu boleh masuk dan duduk.” Sambil mengusap darah dan keringat dari bibirnya, Mads tersenyum pintas. Trivia : Nama Mads berarti “Gift from God” (hadiah dari Tuhan). Nama Jeannie diinspirasi dari kata Genie (jin dalam wujud wanita) String Theory benar-benar ada, namun versi terbaru nya disempurnakan bukan pada tahun 2004, melainkan tahun 1994, oleh ilmuwan Edward Witten. Teori itu bernama M Theory yang sampai sekarang masih dianggap teori yang mampu menjelaskan segalanya. Einstein sendiri berusaha keras untuk menemukan teori seperti ini sebelum dia meninggal, namun dia kehabisan waktu. Cita-cita Einstein adalah untuk “membaca pikiran Tuhan”. SUMBER : salah satu Thread yang ada di kaskus [ lupa link nya ~_~! kalo udah inget nanti di update ] My credit untuk yang bikin cerpen ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s